Rintihan Pendosa
Oleh: Dedi Suhendar
Chapter I
Jauh kaki melangkah dari kampung tercinta
Demi satu harapan kelak kebahagiaan akan ditemukan
Tinggalah ia beberapa tahun di perantauan jauh dari orang yang tercinta
Ditanah itulah bermacam-macam cobaan, derita dan duka menghiasi kebahagiaan
Saling bergantian.
Serupa malam yang bergantian dengan siang.
Dibalik reruntuhan sepenggal kalung kisah hidupnya jauh dari sisi idealisme.
Ia dapatkan ilmu, tetapi ilmunya menyesatkannya.
Ia dapatkan kesempatan, dengan senang ia lepaskan begitu saja.
Ia dapatkan tantangan lalu lari terbirit-birit seraya melebarkan tangan dengan bibir mencibir,
Dosa … Dosa … Nampaknya tidak akan ditinggalkan olehnya kebodohan,
Karena dia tidak tahu kebodahan yang telah ia perbuat.
Ia sudah jenuh dengan panggilan pendusta ilmu, agama, penzina, pemalas dan jiwa kerdil
Lalu apa yang mesti ia lakukan untuk mengingat dan
Menebus dosanya?
Chapter II
Dari hati yang tidak nampak oleh kasad mata
Butiran kata dan rasa selalu ia tuangkan dalam derain air mata
Dialah pemimpin yang harus bertanggung jawab atas semua ini,
Wahai hati yang mempunyai dua sisi dimensi,
Hati buruk dan suci inilah isi dalam jasadmu.
Kadang aku tak sanggup mengikuti jejak langkahmu dengan ikhlas
Wahai hati yang buruk engkau adalah singgasana setan yang di kutuk Tuhan
Wahai hati yang bening dan suci engkau adalah malaikat pemberi wahyu dalam hidupku
Mengapa singgasana syaitan mesti ada dalam segumpal darah ini
Mungkinkah ini temapt untuk prajurit cinta berbuat
Suatu masa prajurit yang dikirimkan untuk menggempur kerajaan syaitan, harus mundur dengan sisa prajurit yang sedikit pulang sembari membawa luka dan kesedihan.
Wahai Tuhanku sang pemilik dua sisi
Engkau telah menciptakan semua ini,
Untukku sekali lagi ini untuk aku
Ya Tuhan jangan berikan otonomi yang luas bagi syaitan
Aku ingin bertemu denganmu dan ingin bersamamu
Rindu dan cintaku tak seperti pada dunia
Ya Tuhan berikan aku jalan dengan himahmu…