SEJATINYA MANUSIA

Oleh: Dedi Suhendar

Hidup itu mengalir begitulah adanya, semua berputar, bergerak dan diam. Manusia terperangkap dalam lingkaran yang memutar dan berulang ulang. Setiap manusia semuanya berjalan mencari apa yang diimpikannya atau mungkin yang dinginkanya. Hasrat untuk hidup sangatlah kuat, karena mati adalah bukan akhir yang menyenangkan. Sulit untuk manusia menatap apa yang akan ia tempuh selanjutnya, esok, sejam nanti menit nanti, sampai bulan dan tahun depan. Seakan semuany akan indah, mungkin alasan itulah yang menjadikan manusia untuk tetap hidup di muka bumi ini. Walau pun tak seorangpun dapat mengetahui alur jalan hidup masing-masing di esok hari.

Lubang-lubang kehidupan begitu banyak sehingga manusia berhati-hati agar tidak terjerembab kedalam lubang dalam; lubang yang gelap penuh ketidak pastian dan kosong. Semua orang pasti mempunyai cita-cita tertinggi; sukses berkarir, jabatan, milioner, seniman, budayawan dan dermawan. Tapi jalan yang manusia tempuh tidaklah sama seperti alur yang ia temukan dari sejarah. Perasaan putus asa kian mendera dalam jiwa manusia tatkala mereka menemukan kenyataan pahit dari hasil perjuangannya. Atau selalu lupa tatkala bahagia merona dalam jiwa dan menebarkan tawa senyum gembira.

Keadaan ini memaksa manusia untuk merasakan peristiwa malam dan siang memilih antara baik dan benar, walau kadang semua terkecoh dengan manisnya ambisi dan mimpi. Tertipu dan tertipu lagi oleh sebuah keyakinan, “aku akan memiliki” dan “aku abadi” bohong! Kata-kata itu mustahil adanya karena manusia adalah tidak ada dan keabadian pun adalah tidak ada. Manusia terlahir dengan tak punya apa-apa dan manusia adalah miskin tak sejengkal tanah pun, tak setunjang beras pun, tak setetes air pun dimilki oleh manusia, karena manusia tak pernah bisa membuat itu semua. Dialah pemilik segalanya dan penguasa jagat raya yang telah menuliskan nama manusia dalam lembaran sejarah dunia.

Manusia yakin semua pasti ada akhirnya, setinggi melompat keatas pasti akan terjatuh, sekuat monster berdiri pasti akan roboh, ribuan mil ditempuh pasti akan mendapatkan jalan yang buntu. Karena manusia adalah mahluk yang dibatasi. Manusia kadang lupa dengan dirinya, andaikan semua manusia menyadari bahwa hari-hari yang dijalaninya mungkin bisa menjadi hari terakhirnya, dan setiap nafas yang dihela mungkin adalah nafas terakhir bagi manusia saat ini. Hidup tidaklah mudah diterka oleh siapa? Dengan siapa dan bagaimna? Semuanya butuh proses. Inilah sebuah inti yang lama kita cari sebuah jati diri yaitu “proses” manusia tak berhak menentukan hasil akhir atau bentuk penilaian. Karena manusia tidak lah dipandang hidup jika tidak berproses. Mulailah hidup ini dengan berproses yang jelas dan menuntun kita menjadi manusia yang dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah diamanatkan.

About these ads

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: