SELALU BBM YANG BIKIN GEMPAR NEGARA INI

Oleh: Dedi Suhendar

Negeriku kini diguncang lagi dengan bencana ekonomi, seiring bencana yang melanda negeri bambu pagi lalu belasan ribu meniggal dunia terkubur dalam reruntuhan gempa. Tua muda turun kejalan dengan sepanduk bukan kotak sumbangan bencana. Adalah kotak suara dukungan untuk melawan keadaan yang terpuruk, itulah yang disuarakan mereka. “Boro-boro mikirin negri tetangga saat ini emak saya tidak bisa membeli minyak!” Panas dingin kondisi ekonomi negri kita ini semakin memuncak dan sebentar lagi akan kejang-kejang. Minyak saat ini seakan-akan menggantikan beras, karena minyak sudahlah menjadi barang pokok yang sangat penting adanya. Jika mereka coba ingat kembali ke masa lalu saat mereka mencari kayu bakar ke hutan untuk memasak kebutuhan pangan sehari-hari, bepergian menggukan andong atau becak seakan itu sirna ditelan jaman yang semakin berlari cepat. Kataku dan mereka itu tak mungkin kembali kejaman dimana kita tidak tergantung pada juragan minyak” ini. Ya, memang begitu adanya mereka adalah pecandu minyak yang berteriak “berikan minyak… berikan minyak…. Dengan harga murah”, bukan berkata “minta air… air… aku kehausan!”. Bukan, saya rasa bukan itu yang dikatakan mereka dan aku, nyatanya roda dunia ini bahan bakarnya adalah minyak fosil. Semua mulut berbicara minyak hari ini, semua orang dinegeri ini berkata “janagan tambah lagi derita pada kami dengan menaikan minyak”. Listrik dihasilkan dari bahan bakar fosil, barang kebutuhan di muat oleh bahan bakar fosil, memasak dan memanggang menggunakan bahan bakar fosil, dan berkendaraan sama pula menggunakan bahan bakar fosil semuanya seakan menjadi sebuah mata rantai setan, saling ketergantungan pada bahan bakar fosil. Manusia pada era ini adalah manusia yang hidup di “Revolusi Bahan Bakar Fosil” itu faktanya!

Konon katanya cerita dari ayahku negeri ini adalah negeri nomer ke dua sebagai penghasil minyak terbesar di dunia. Harta melimpah ruah harga-harga semuanya murah. Makan di warteg saja cukup mengeluarkan uang sebesar 250,- rupiah kita sudah bisa kenyang melahap makanan dengan menu yang istimewa. “Malang nasibmu nak” kata ayahku “sekarang ini, mau makan saja ngak cukup dengan uang sepuluh ribu rupiah”. Ya memang malang nasibku dan anak cucuku dimasa nanti. Negeriku sekarang seperti “jungky” pecandu yang sedang sakau, kacau balau karena kondisinya sedang “nagih lagi”. Laksana kanker yang menempel dalam tubuh perlahan mengerogoti dan lama-lama membunuh hingga mati, ini semua oleh karena si minyak fosil itu. Apa yang dapat aku lakukan untuk negeriku saat ini, “menghemat, dengan menggunakan kartu izin membeli minyak” kata Presiden padaku. “bangsat!!, makan saja kok dibatasi emangnya kamu pernah ngasih makan untuk saya?” kataku dengan geram. “emangnya kamu pernah memberi uang untuk membayar biaya sekolah dan berobat kerumah sakit?”. Sekolah mahal, biaya rumah sakit mahal, belanja kebutuhan sehari-hari mahal, menikah pun mahal sama seperti harga minyak “naik melulu”. Apakah aku harus ikut dengan tetangga rumahku yang pergi ke luar negeri untuk mengemis Dolar, Ringgit, Real dan Yen. Tidak kata ayahku “negeri kita itu sangat kaya nak!”. Ya benar sekali negeri kita ini adalah negeri “kaya” kaya pengemis, kaya pengangguran, kaya penyakitan, kaya tawuran, kaya korupsi, kaya sendiri ngak mau bagi-bagi, dan pengen meniru kaya orang lain tapi ngak kesampaian.

Setahuku minyak fosil itu ditambang dari tanah ibu pertiwi lalu dijual kepada orang pertiwi, “dari pertiwi untuk pertiwi” setahu Presiden “minyak itu ditambang oleh PERTAMINA lalu dijual kepada orang pertiwi dan orang asing”. sejatinya adalah minyak itu milik orang pertiwi bukan milik PERTAMINA saya yakin itu! Lho kok? sekarang katanya mau menjual minyak kepada orang pertiwi sama harganya dengan menjual kepada orang luar pertiwi. “sinting” itu sama saja Ngelunjak kita biarkan PERTAMINA mengolah minyak pertiwi, lho kok? sekarang minyak itu jadi milik PERTAMINA tuan tanahnya kan Pertiwi bukan PERTAMINA? Kenapa bisa begitu? Kalau saya boleh usul sudahlah tambang minyak itu jangan diberikan kepada orang PERTAMINA, nanti dia bakal nakalin orang pertiwi supaya puasa dan dipaksa menghisap gas Elpiji dan gas ekspor dari Amerika. Oke, saya sekarang coba mengerti, memang PERTAMINA sudah menjadi raksasa yang susah untuk digulingkan. Oke lah, harga minyak disamakan dengan harga penjualan diluar orang pertiwi. Tapi saya minta tiga hal kepada Bapak Presiden. Pertama Pendidikan sekolah selama sembilan tahun baik itu sekolah negeri atau pun swasta semuanya geratis. Kedua biaya pengobatan rumah sakit dari kalangan menengah kebawah itu geratis. Ketiga berikan sarana pekerjaan untuk kami biar tidak menjadi pengangguran dan sampah masyarakat. Itu saja negoisasi kami untuk Bapak presiden menaggapi “Revolusi Bahan Bakar Fosil” saat ini. Terima kasih

There are no comments on this post

Leave a Reply