CERPEN

June 10, 2008 - Leave a Response

Katakan Atau Menyesal!!!

Pagi itu cerah sekali seindah suasana malam itu bersama teman bergadang sampai larut malam ngobrolin masalah ini dan itu. Seperti hari biasanya aku menyelesaikan tugas sebelum berangkat kekantor, maklum masih muda semua pekerjaan selalu ditunda-tunda karena menganggap masih ada hari esok dan tugas itu akan cepat aku selesaikan dalam waktu yang singkat. Hari ini agak telat datang kekantor dan itu adalah kesalahan terbesar dari kesalahan yang pernah aku lakukan. Pekerjaanku adalah seorang opperator di sebuah station radio, dan pagi itu aku harus menemani seorang penyiar. Tepat pukul enam lebih setengah jam aku masuk keruangan studio, nampak di sana sudah ada perempuan yang sedang berbicara didepan microphone namanya Devi dia penyiar baru di sini. Walaupun aku terlambat tetapi di wajahnya tidak nampak kekesalan atau jengkel terhadap ketelatanku itu. Dia menyapaku dengan manis, aku anggap itu adalah sebuah senyum junior kepada senior maklum aku sudah lama bekerja disini. Perkenalanku denganya sudah lama dan baik-baik saja tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Devi adalah gadis cantik dan energic dia suka belajar apa pun tanpa harus malu-malu untuk bertanya kepada siapa pun tentang sesuatu yang tidak ia ketahui. Hari itu siaran berjalan seperrti biasanya tapi waktu itu Devi meminta sesuatu padaku “mas, boleh ngak saya minta sesuatu?” tanya Devi dengan senyum manisnya. “minta apa sih?” aku sedikit penasaran. “boleh ngak aku cubit hidungnya?” dengan wajah yang memohon ia pinta. “oh, kamu ini ada-ada saja. Boleh lah” jawabku. Lalu dengan senang ia mencubit hidungku dengan lebut dan diiringi tawa kecil kegirangan. “mimpi apa aku semalam pagi-pagi sudah dicubit hidung sama gadis cantik?” tapi perasaan itu seakan sirna ketika aku ingat tentang cerita teman-temanku kalau Devi adalah kecengan temanku, namanya adalah Roni. Menurutku kejadian ini mungkin hanyalah untaian kenangan manis saja saat aku kerja di radio dan dengan cepat aku tepis semua imaginasiku itu. Sejujurnya semenjak pertama aku melihatnya ketika ia melamar untuk menjadi penyiar di radio itu aku sudah menaruh rasa tertarik sama dia dan teman-temanku mengatakan kalu aku itu cepet tertarik sama semua perempuan yang montok lalu dengan cepat aku sangkal semua itu dan aku bilang kepada mereka pantang bagiku untuk ngedeketin Devi. Lalu Roni sahabatku itu melancarkan serangan PDKT-nya sama Devi dan itu menurutku biasa saja walau dalam hati ada rasa cemburu. Cemburu? Adalah kata-kata yang aneh buatku karena aku anggap tidak mungkin aku menjadi pacarnya atau siapalah! Prinsipku adalah pantang untuk menjilat ludah sendiri. Aku berbohong pada teman-temanku tengtang perasaanku padanya dengan mengarang cerita kalau aku sudah punya pacar padahal sebenarnya aku jomblo. Sebuah predikat yang sangat memalukan bagi insan intertainment ngak punya pacar alias ngak laku. Hari berlalu dan waktupun berputar seiring dengan perjalanan karirku di radio hingga suatu saat aku temukan seorang perempuan yang berhasil memikatku dan membuatku tidak bisa berpaling pada perempuan lain. Namanya Diana gadis belia usia belasan dan masih duduk dibangku SMU kelas dua. Memang bikin bangga punya pacar sama berondong begitulah sapaan untuk remaja anak baru gede, sedangkan usiaku danganya beda jauh, sekitar enam tahun lebih tua darinya. Diana adalah gadis baik dan sedikit lebih Posesiv dan agresif. Tak terasa waktu itu hubungan kami sudah berjalan sekitar tiga bulan, dan aku dengan Roni sahabatku itu gagal menjadikan Devi pacarnya dengan bermacam-macam alasan yang ngak pasti karena aku ngak dengar langsung cerita dari mereka, kabar itu hanya aku dengar dari gosip teman-teman aja. Pikirku ya sudahlah mungkin dia sudah punya pacar, sehingga si Roni ditolak sama Devi. Kaririku di radio dari bulan kebualan mengalami kemajuan hingga suatu saat aku dipercayai untuk menjalankan sebuah kegiatan konser dan waktu itu aku menjabar sebagai ketua pelaksana dengan sekertaris dan bendaharanya adalah Devi dari sanalah aku sering berkomunikasi dengan Devi main kerumahnya untuk menanyakan keuangan dan lain sebagainya. Di dalam perjalanan itu aku sering menemukan Devi sedang bersama seorang lelaki, mungkin pacarnya atau teman yang pasti aku tidak tahu. Karena aku tidak berani menyakan tentang laki-laki yang sering jalan bersamanya. Angapanku kenapa aku harus menyakan itu, siapakah aku? Konser pun telah usai dan komuniksiku dengan Devi menjadi biasa saja intensitas untuk bertemu pun menjadi kurang. Itu aku anggap wajar saja lagian kenapa aku harus pusing mikirin dia mungkin hari ini dia lagi jalan sama pacarnya dan aku pun saat ini sudah punya pacar walau jujur Devi adalah gadis impian yang tenggelam bersma mimpi dan angan semu. Setelah lamanya aku bekerja di radio semakin tinggi pula karirku disana begitupun dengan kisah asmaraku semakin lama semakin kaya akan drama romantis dan pertengkaran. Satu hal yang aku sukai dari sosok Diana adalah kesabarannya mencitaiku dan aku sangat menghargainya, aku tak pernah selingkuh darinya hingga saat ini dia sudah duduk dibangku kuliah semester dua. Dari lamanya kami berpacaran di sanalah aku mengetahui banyak hal tentang apa yang dinginkan perempuan setidaknya perempuan tipe model kayak Diana. Diana adalah seorang yang pencemburu, jika nada bicaraku kurang enak didengar dengan cepat ia bertanya “knapa kok beda? Mas, selingkuh ya?” itulah kata-kata yang sering ia lancarkan ketika protes padaku. Sejujurnya Dian bukanlah model perempuan yang masuk kedalam kategoriku dari bentuk fisik hingga segalanya buatku tidak ada yang terlalu spesial. Namun keputusanku untuk menjadikan ia sebagai pacarku adalah karena aku tidak mau tinggal diam dari wabah jomblo dan penyakit cowok egois yang ngak tau perasaan perempuan dan virus manfaatisasi kaum hawa. Darinya aku belajar cara menghargai perasaan dan pandangannya terhadap penampilan, karakter, hingga pola fikirku memberikan inspirasi untuk still fight memperjuangkan hidup menuju masa depan yang lebih cerah. Akan tetapi perjalanan hudup itu tidak selamanya datar pasti ada tanjakan dan turunan yang curam. Satu bulan lalu kami harus mengakhiri hubungan kami berdua karena orang tua kami masing-masing kedua belah pihak tidak merestui hubungan kami, dan salah satu alasan yang paling konkrit adalah status sosial yang selalu dipertyanyakan oleh orang tuanya. Memang secara finansial aku belum cukup untuk datang kerumahnya untuk melamar atau mengajak tunangan. Menurutku itu berat aku terima karena statusku kini masih Mahasiswa dan sedang sibuk mengurus akhir studi. Dengan penghasilan yang tidak seberapa yang hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saja itu tidak cukup untuk meyakinkan Diana dan kedua orang tuanya. Akhirnya kami bersepakat untuk buabaran saja, walau pahit tetapi ini yang harus aku terima sebuah kenyataan yang memaksaku untuk merobohkan bangunan yang telah lama kami bina. Sesal dan tangispun seakan menjadi teman dikeseharianku, hari itu aku masih ingat kira-kira hari selasa jam dua siang Diana datang kerumahku dan menceritakan semua yang telah terjadi padanya. Dia bercerita tentang perjalan cinta kami dan dia sempatmeminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan tanpa sepengetahuanku. Dia sudah lebih dari tiga kali berselikuh dengan lelaki lain dan hingga hari ini dia mengatakan bahwasanya seorang lelaki yang sudah mapan sudah datang kerumahnya untuk melamarnya. Aku terpukul mendengar cerita itu, dengan sabar aku coba bertanya kepadanya “kok kamu gampang banget ya nerima lelaki lain, padahal kita kan baru aja bubaran?” dengan nada kesal. Ia pun menjawab dengan panjang lebar bahwasanya sebelumnya dia telah menjalin hubungan dengan lelaki itu sewaktu kami masih berhubungan. Dan tepat setelah kami putus lelaki itu datang kerumahnya untuk meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia adalh lelaki yang tepat untuk menjadi pasangan Diana. Lalu aku tanya sama Diana “apa kamu mencintainya?” “ya,…tapi) “stop” dengan cepat aku sela. “ya sudahlah jangan kau teruskan, itu adalah keputusanmu. Aku tidak punya hak apa pun atasmu satu pesan untukmu, jadilah perempuan yang menjadikan kekasihnya menjadi seorang lelaki”. Dalam perjalan cinta ini aku merasa aku bukan seorang lelaki dan mungkin aku pula tidak sanggup menjadikan ia seorang perempuan. Kini hariku-hariku menjadi kosong dan kelabu tapi buakan berarti aku meminta belaskasihan orang lain untuk menghibur kehampaan ini. Nongkrong dikosan sering aku lewatkan bersama teman-teman sambil meratapi kesepian sambil bergai pengalaman dan bertanya tentang type cewe impian masing masing, sambil tersenyum aku selalu ingat dengan mata sipitnya devi. Dengan cepat kutepis lewat kebisuan yang mendalam. Macam kegiatan aku mulai jalani dari kegitan fisik seperti olah raga dan merintis organisasi adalah keseharianku. Aku harap dengan segala aktivitasku ini akan membuang sebuah paradigma negatif tentang wabah jomblo dan dalam fikirku aku harus mampuh hadapi kehidupan ini tanpa harus berpangku tangan dan rewel dengan manja-manja mencurahkan isi hatiku pada seseorang. Berjuang dan singkirkan kata malas dan menyerah itulah moto baru dalam hidupku. Pada suatu malam saat berbaring diatas kasur tiba-tiba terlintas sesosok wajah yang pernah aku kenal dimasa lalu dia adalah teman kerjaku saat di radio “oh ya Devi”, kenapa tiba-tiba aku mengingatnya dan segala kisah bersamanya. Dengan cepat aku buang semua angan-angan itu. Mungkin saat ini dia sedang asyik telponan atau SMS-an sama pacarnya. “peduli apa ia padaku?” ketemu pun jarang dan diantara kita tidak ada komunikasi sama sekali. Tapi, aku masih inggat saat malam itu aku pergi kerumahnya dan berharap dapat melihat senyum dibibirnya serta matanya yang indah yang selalu terbayang. Akan tetapi langkahku terhenti ketika gerbang rumahnya sudah dikunci, ya sudahlah aku pergi ketempat makan dan pulang lagi. Lalu aku masih ingat ketika Devi sedang asik ngoceh di depan microphone dan dia tidak sadar bahwa aku memperhatikan semua ekspresi wajahnya, “manis” itulah kata-kata yang ku bisikan dalam hati saat itu. Lalu tepisan kata “tidak mungkin” selalu merongrong di dalam kegundahan ini. Devi adalah temanku dan hanya akan menjadi temanku saja itu yang selalu aku katakan saat pertama kenal hingga saat ini. Tapi jika aku diijinkan untuk jujur pada dunia bahwa sebenarnya aku suka dan mencintainya dan lebih dari itu aku tidak ingin melihat ia bersedih, inginku ia selalu bahagia adalah cukup bagiku. Tetapi betapa bodohnya aku jika membiarkan perasaan ini mati terkubur bersama jasadku nanti, aku harus bergerak dan mengatakan dengan sejujurnya bahwa aku suka padanya dan cinta padanya. Bicarakan semua isi hatiku atau aku akan menyesal sepanjang hidupku. Setelah hari itu itu aku bertekad untuk mengatakan semuanya, dan SMS pun aku lancarkan hanya sekedar menyakan kabar dan lain sebagainya. Aku minta padanya untuk bisa bertemu dan membicarakan sesuatu. Jawabannya tidak pernah berbeda dari jawaban-jawaban seorang teman “aneh sudah lama ngak ketemu tiba tiba ngomongnya kayak gini?” mungkin itu pertanyaan yang ada dalam benaknya. Serangan selanjutnya aku akan mencuri kesempatan untuk bertemu dengannya dan akan mengatakan semua kerinduan dan kegelisahan yang selam ini bersarang didada. Sore itu aku melihatnya sedang berjalan bersama temanya dan dengan cepat aku sapa dan meminta kepadanya meluangkan waktu untuk nonton, makan malam atau acara jalan-jalan bersamaku. Yang pasti aku pengen membicarakan semuanya dalam kondisi yang tepat dan pas. Dia masih bingung harus menjawab apa, karena ia kira ini awal perjumpaan dari sekian lama tidak bertemu. ==========maaf bila aku telah memaksamu, tapi tolong lanjutkan ceritanya sampai semua pertanyaan tokoh dalam cerita ini menemukan jawaban dari semua pertanyaannya tentang Tokoh Devi==========================

Ketangguhanlah Adalah Modal Keberhasilan

June 10, 2008 - Leave a Response

Oleh: Dedi Suhendar

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Seiring waktu berjalan manusia hidup di dunia ini berdiri di sebuah ujung tombak perjuangan, memperjuangkan hidup menuju arah yang lebih baik. Semua mempunyai jalan masing-masing untuk menuju ke gerbang keberhasilan dari apa yang telah diimpikan oleh setiap orang. Seirama dengan detak perjuangan waktu dan ruang adalah tempat bagi manusia untuk melakukan semua kesempatannya supaya dapat meraih apa yang diinginkannya, begitulah proses hidup mengajarkan banyak hal kepada manusia. Namun jalan kehidupan tak selamanya datar begitu pula tak selamanya terjal dan berliku, semuanya mengajarkan keseimbangan demi kualitas terbaik masing individu.

Jika dilihat dari cerita film novel dan cerpen misalnya “Repotnya Tanpa Kamu” dan “Playboy 013” itu mengajarkan kepada manusia untuk berproses dengan tangguh dan memilki keyakinan bahwa apa yang telah dimpikannya dan apa yang telah diyakininya akan terwujud tanpa ada satu keraguan. Baiklah … mungkin itu hanya cerita fiktif belaka karena cerita yang dikarang adalah rekayasa dan content serta ending dari cerita-cerita tersebut bisa ditentukan oleh seorang penulis naskah. Akan tetapi apa yang ditulis oleh seorang penulis naskah adalah pasti memilki keyakin besar bahwa kejadian tersebut telah terjadi atau akan terjadi? Kita kembali lagi kepokok bahasan, adalah penting bagi kita untuk meyakini bahwa kita bisa mendapatkan apa yang kita impi-impikan atau cita-citakan. Seperti dalam Film dan karya tulis seorang motivator dengan judul “The Secrete” karya itu menyakinkan kepada setiap orang bahwa kita harus percaya dan bisa merasakan apa yang dia inginkan untuk bisa mendapatkannya.

Seperti cerita tentang seorang anak yang ingin mempunyai sepeda, anak ini sangat menginginkan speda, setiap hari yang dipikirkannya hanya sepeda saja. Sungguh perjuangan besar untuk anak itu agar bisa tetap teguh dan yakin bahwa ia akan memilki sepeda. Dan tidak lama kemudian setelah enam bulan akhirnya pamanya anak itu telah memberikan sepeda kepada anak itu. Memang tidak ada yang menarik dalam cerita ini, akan tetapi ada hikmah dari cerita anak tersebut, anak ini bukanlah seorang pedagang, bisnisman, buruh atau pegawai negeri dan itu tidak mungkin karena usianya yang masih kanak-kanak. Dan ajaibnya dia berhasil mempunyai sepeda, padahal secara logis dia tidak akan sanggup membeli barang tersebut. Eit …. Jangan dulu disanggah!!! Jangan dilihat sisi kekanak-kanakannya lihatlah perjuangan anak itu supaya dia bisa mendapatkan sepedanya; pertama, dia berbicara kepada ayah, ibu, paman, bahkan neneknya bahwa ia ingin mempunyai sepeda. Kedua setiap bertemu dengan temannya dia selalu mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan dibelikan oleh orang tuanya sepeda. Ketiga anak ini berfikir bahwa dengan sepeda itulah dia bisa bahagia.

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari kisah anak tersebut? Adalah sebuah keadaan siapapun menyikapi semua keinginannya. Orang akan mengatakan panjang lebar tentang keberhasilan usahanya yang sebentar lagi akan dibangun, dia katakana kepada setiap orang yang dia anggap penting untuk membicarakan rencana usahanya. Lalu spekulasi juga ditanamkan ketika harus presentasi terhadap lingkungan ia bekerja bahwa usaha barunya tersebut akan sukses dan maju pesat. Pada kenyataannya semua rencana membutuhkan proses baik lama atau pun cepat. Pertanyaanya adalah sanggupkah kita bisa yakin dengan apa yang telah kita pahami dan yakini? Ironis memang seseorang dewasa masih belum mampuh untuk meyakinkan bahwa dirinya dapat membuktikan impiannya akan terwujud. Karena pada kenyatannya masih meminta-minta dan merengek kepada orang tuanya untuk dapat memenuhi semua kebutuhannya sungguh ini tidak lebih seperti usaha yang telah dijalankan oleh anak-anak saja. Usia tidak menentukan sebuah perbedaan, tapi wawasan dan pandangan luas lah yang mampuh menembus dimensi usia tersebut. Seorang anak di Amerika berumur 14 tahun telah memilki sebuah company forum di Internet dengan penghasilan perbulannya lebih dari $4000 USD tetapi seorang mahasiswa yang memilki pendidikan dan pergaulan tinggi. Untuk membeli HP atau biaya makan saja masih meminta kiriman dari orang tua, dengan berbagai alasan tentunya.

Jadi apa masalah sebenarnya yang sedang dihadapi oleh kita ini? Adalah sebuah keteguhan hati untuk tetap yakin bahwa kita sanggup menghadapi semua rintangan dan mampu untuk tetap tegak pada pendirian tidak mundur kebelakan walau pun hanya selangkah. dengan Berpayungkan doa, sebagai rasa rendah diri terhadap Tuhan. Tidak lupa kerja keras putar fikiran serta atur strategi adalah alas perjuangan dimuka bumi impian. Selamat berjuang dan jangan pernah ragu atau mundur karena langkah-langkah semangat kita sebagai nyawa dari semua yang telah diimpikan. Ingat seperti apa yang dikatan orang bijak perjalan satu mill itu diawali dari satu langkah dan perjalan satu mil adalah kaki yang berpijak tetap teguh disetiap pijakannya.

Koboi Kampus (REVIEW LIRIK THE PANAS DALAM)

June 10, 2008 - Leave a Response

Cipt: The Panas Dalam

Lalu kapan saya akan di Wisuda

Adik kelas sudah lebih dulu

Rasa cemas merasa masih begini

Temen baik sudah di DO

Orang tua di desa menunggu

Calon istri gelisah menanti

Orang desa sudah banyak menganggap

Aku jaya di negeri orang

Tolonglah diriku …

Koboi kampus yang banyak kasus

Hatiku cemas …

Gelisah sepanjang waktu-waktuku

Kalau bisa bantulah aku

Luluskan apa adanya

Bagaimna? begitu saja

Nanti kaya bapak dibagi

Tolonglah diriku …

Koboi kampus yang banyak kasus

Hatiku cemas …

Gelisah sepanjang hari-hariku

Maafkan aku ayah …

REVIEW By Dedi S.

Memang lirik yang disuarakan teman-teman The Panas Dalam adalah sebuah kisah hidup yang nyata bagi segelintir mahasiswa yang belum lulus kuliah. Meskipun lamanya waktu belajar di kampus, tapi itu tidak menjamin mahasiswa untuk lulus. Banyak alasan yang di hadapai oleh mahasiswa seperti tidak sanggup membayar iuran semester, tanggung mata kuliah tidak dapat diambil karena IPK tidak mencukupi untuk mengambil mata kuliah lainnya, putus cinta lalu stress, nilai tidak kunjung keluar dari Dosen, terlalu sibuk dengan urusan organisasi luar dan dalam kampus dan sejuta alasan yang membuat mahasiswa terpaksa menjadi “koboi kampus” atau mahasiswa abadi. Contoh kasus yang dialami oleh saya pribadi, saya adalah lulusan SMU angkatan 2002 tapi hingga kini 2008 belum lulus atau di Wisuda. Dengan alasan saya pindah-pindah kampus dari kampus satu ke kampus lainnya. Alasan utamanya adalah merasa pelajaran yang saya terima di bangku perkuliahan itu tidak ada bedanya dengan pelajaran TK atau SD. Merasa tidak puas lalu pindah kekampus lain walau harus rela mengorbankan beasiswa, demi idealisme pendidikan yang bermutu apa pun akan saya lakukan. Karena saya anggap pendidikan di perguruan tinggi adalah jenis pembelajaran yang sudah masuk taraf yang tertinggi, tapi jawaban itu salah! Akhirnya saya masuk kedalam sebuah situasi dimana harus menyerah pada keadaan, yaitu “setinggi apa pun ilmu seseorang, tidak akan dihargai dimata umum jika tidak memilki gelar apa pun itu serjana atau prof” begitu kata ayahku setiap kali diskusi dengannya. Ditengah perjalanan yang panjang selama empat tahun lika-liku kehidupan sebagai mahasiswa saya tempuh dengan susah payah, harus menahan lapar, nahan jajan, ngirit duit kalo pacaran, ngumpulin uang untuk beli baju baru, ngutang kesana-kemari. Rasa cemas selalu menghantui pada malam hari, yaitu sebuah pertanyaan, “apa yang akan saya lakukan setelah lulus nanti? Apakah saya akan bekerja? Atau nganggur?” mengelayut pertanyaan itu dalam fikiran ini. Disamping itu selain masalah hidup yang semakin sulit permasalahan akademis pun tidak ketinggalan memberikan sumbangan penyiksaaan dengan segala macam peraturannya, satu, dua tiga, empat dan seterusnya begitulah masalah dating dari waktu-kewaktu hingga saat ini sulit untuk saya menghilangkan kecemasan dan kegelisan sepanjang hari tentang lulus kuliah? Bagaimana masa depan saya? Cari modal buat nikah dan lain sebagainya?. Sementara tidak terasa umur semakin tua dan sebentar lagi akan berkepala tiga, defresi ini tidak berhenti setiap waktu menyiksa kehidupan ini. Kapan saya akan menyelesaikan kuliah ini dan kapan saya akan sukses dan menjadi orang yang berguna? Pertanyaan itu selalu tidak terjawab karena pada kenyataannya saya masih didalam lingkaran mahasiswa dengan segala macam masalahnya. Banyak teman saya mengatakan “semuanya dapat di selesaikan dengan uang” tapi peda kenyataannya saya masih meminta bantuan orang tua untuk membiayayai kehidupan sehari-hari dan biaya lainnya. Bagaimana nanti? Mungkin bagi sebagian berangkat kuliah adalah sebuah langkah pasti untuk menduduki jabatan yang sudah tersedia, calon pengusaha, manager perusahaan, mengurus yayasan, menjadi guru dan sebagainya. Tapi siapalah saya? Tidak ada saudara dan kawan yang dapat diandalkan untuk masa depan. Saya harus merangkak sendiri menggapai semua impian. Rasa malu dan gelisah selalu datang ketika akan pulang kampung. Perasaan ini timbul karena saya merasa “saya kuliah sudah lama” orang lain, seperti tetangga rumah di kampung sudah menikah, punya rumah, tanah dan usahanya sukses. Rasa sesal datang dan pertanyaanpun muncul, kenapa tidak dari dulu saya pergi kekota untuk berjuaalan dan bekerja pada orang lain? Mungkin saat ini saya sedang berada dirumah beserta istri dan anak. Tapi kok malah kuliah? Bukannya kuliah itu menghambur-hamburkan uang. Karena semua orang menggap orang yang kuliah adalah orang mampuh dan berkecukupan. Tapi nyatanya saya adalah orang yang merasa tidak mampu dalam mengatasi kesulitan ekonomi yang semakin menghimpit.

Saya mulai berfikir lagi, munkinkah hidup ini hanyalah sebuah perjalanan proses yang panjang, berproses dan terus berproses. Tapi pada kenyataannya penampakan sebuah hasil dari proses adalah hal penting pula dalam mengukur sebuah prestasi. Semakin bingung pertanyaan yang mengendap dalam pikiran ini. Bagaimana ini, dan itu?, bagaimana hari ini dan esok? Sehari-hari saya sering terperangkap dengan kegiatan yang sama dengan hari-hari sebelumnya, yaitu menunda dan menunda, dengan alasan totalitas menyelesaikan masalah, padahal pada kenyataannya dikerjakan atau tidak masalah itu terus datang menghadang. Saat ini saya sadar manusia sering terperangkap dengan keadaan hari ini, yang ia rasakan saat ini, padahal esok hari lain lagi ceritanya. Begitu dan terus begitu apa yang dialami manusia yaitu, menerka, berproses, lalu berharap mendapatkan hasil yang optimal.

Control mic; Kuasai Microphone-mu

June 10, 2008 - Leave a Response

Oleh: Dedi Suhendar

Microphone adalah sebuah alat yang digunakan untuk menghantarkan getaran suara kepada out speaker. Maka ujung tombak pengeras suara adalah microphone, benda ini dapat dikunjungi dengan beberapa macam istilahnya ada yang mono dan stereo, berkaki dua dan empat, basic dan wireless, microphone classic dan moderen, microphone buat rekaman hingga microphone yang sering digunakan untuk adzan di surau kecil.

Harga benda sederhana ini sangat berpareatif dari harga Rp. 5.000 hingga Rp. 6.000.000 walau pada dasarnya fungsinya sama yaitu menghantarkan suara saja. Akan tetapi suara yang dihasilkan audio output tentunya harus memiliki kualitas, dan ini selaras dengan harga yang ditawarkan ketika akan membeli microphone; harga murah untuk kualitas suara cempreng atau tengek harga mahal untuk michrophene tanpa kabel stylenya keren dan surround ditelinga. Kelebihan lainnya yang terkandung dari microphone baik adalah dia sanggup menyulap suara yang kurang bagus menjadi bagus; pelafalan pronunciation menjadi sangat jelas jika menggunakan microphone kualitas baik beda dengan microphone biasa mengucapkan “ssss” terdengan “es” itu sangat beda, suara menjadi terdengar pengap dan sumpek. Benarkah begitu? Coba anda bedakan ketika menggunkan headset microphone, dengan microphone yang biasa dipakai. Itu kan, bantuan mixer? Ya, memang mixer adalah alat yang memilki pengaruh besar untuk meracik suara. Tapi, perlu diketahui dalam moncong microphone terdapat sebuah lilitan kawat melingkar melingkar;setipis rambut kepala dan lilitan itu sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya hantaran watt yang di alirkan ketika getaran di terima signal reciver. bukannya sekarang seluruh broadcast sudah menggunakan optimood? Tidak semua lho…

Yang terpenting dari alat ini adalah dia berpungsi dengan baik dalam menghantarkan suara kita dengan baik. Baik disini adalah kita dapat menguasai microphone supaya dia tidak memberikan pengaruh besar terhadap psikologi pemegangnya. Maksudnya adalah ketika microphone di pegang tiba-tiba lutut bergetar dan jantung berdetak lebih kencang. Benda ini membuat pemegangnya menjadi gugup dan bingung apa yang mesti disampaikan kepada pendengar listener. Ternyata benda ini sama halnya seperti kekasih, awal kita menyentuhnya persaan menjadi serba salah, gemetar dan nervous tapi setelah sebualan dua bulan bahkan tahunan, pegangan tangan seolah memegang tangan sendiri atau menganggap itu bukan hal yang luar biasa. Sama halnya juga dengan microphone kita mesti terbiasa memegang microphone dan bicara dengannya. Pasti lama-kelamaan anda akan lupa bahwa anda sedang memegang microphone. Biasakanlah….. sering-seringlah…..

Untuk selanjutnya adalah tehnik menyampaikan suara lewat microphone. Suara yang kita hantarkan itu beragam nada rendah sedang dan tinggi. Bagaimana agar suara yang kita keluarkan terdengar bagus tidak ngabelekbek? (bahasa sunda artinya blatak-bletuk) nah tehnik control microphone itu penting disini, jika kita hendak mengeluarkan suara yang berat dan dengan tempo pelan, dekatkan mulut ke microphene dengan jarak renggang 10 – 5 cm, jangan dekatkan hidung ke microphone krena suara nafas anda akan mericuhkan suara noise, jika berbicara sedang dengan tempo cepat atau sedang dekatkanlah mulut ke microphone dengan jarak 20-hingga 15 cm dengan catatan anda mesti menggunakan headphone untuk menghindari suara yang timbul tenggelam. Karena ketika kita bicara didepan microphe itu sering lupa dengan posisi mulut menghadap ke microphone dikarenakan asyiknya bicara atau ngobrol hingga kontrol mic kurang. supaya kita tidak repot ngurusin microphe biasakanlah kita bicara didepan microphone dengan kontrol yang baik, yang nantinya secara otomatis akan membiasakan anda berbicara bagus di depan alat tersebut. Sama halnya penyanyi ketika ia menyanyi kontrol mic adalah hal penting yang haru di kuasai oleh seorang singer.

Selamatkan ekspresimu; menjadi indah dan bermakna, ketika anda tertawa dan menangis itu juga perlu latihan di depan microphone supaya suara yang dihasilkan dapat di nikmati dengan baik. Tertawa dengan mulut dekat dengan microphone adalah sangat mengganggu annoying menangis terlalu jauh dengan miocrphone adalah kedengerannya seperti tidak menangis malah membuat bingung. Semua ekspresi harus memilki teknik penyampaian tersendiri misalkan menagis tersedu itu usahan mulut kita dekatkan dengan microphone dan agak dijauhkan ketika akan menarik ingus saat menangis, hntarkan desahan dari suara perut itu akan lebih berisi. Ketimbang suara tangisan yang kencang atau sambil menjerit-jerit.

Yang jelas microphone itu bisa menjadi pemoles suara kita atau bahkan benda ini bisa membuat kita mati kutu. Dan yang perlu dicatat bagi para pembaca adalah ketika kita akan menggunakan microphone pastikan terlebih dahulu bahwa microphone kita berfungsi dengan baik atau tidak. Jangan sampai hal ini di lupakan pastikan pada operator untuk mengecek suara kita sudah baik atau belum. Akan tetapi lebih sempurna lagi jika kita mau belajar dan bersahabat dengan microphone ini; genggam dan suarakan isi hatimu.

Membuat Novel, Cerpen dan Naskah Cerita Itu Mudah

June 10, 2008 - Leave a Response

Oleh: Dedi Suhendar

Mhasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gung Djati Bandung

Pernah nonton film Romeo+Juliet, Laila+Majnun, The Lucky man, Way, Residen Evil, Cannibal Holocaust, Hamlet? Mungkin banyak, tidak pernah nonton, mungkin salah satunya, atau bahkan tidak tahu film itu? Bayak hal yang telah manusia ungkapkan dalam film, novel, cerpen, dan sebagainya salah satu ungkapan mereka adalah imaginasi atau hayalan dan bayangan. Seseorang berhasil membuat sebuah naskah drama atau classic tale dengan imaginasinaya; dia berhasil membuat dunia berjalan sesuai apa yang terdapat dalam otaknya. Tahukah anda bahwa anda juga adalah sama seperti mereka yaitu penulis naskah terhebat di dunia ini. Perbedaannya adalah anda tidak menuliskan apa yang anda bayangkan dan tidak pernah mengintrepetasikan kedalam wadah yang menguntungkan. Sebuah missal ketiaka anda membayangkan menjadi seorang yang kaya dan ternama atau sebaliknya sengsara dan nestapa, anda membayangkan awal hayalan hingga akhir hayalan anda tersebut. Pertanyaannya kenapa anda tidak bisa menceritakan hayalan anda itu kepada orang lain secara mendetil. Mungkin jawabannya adalah, hayalan anda tidak penting untuk diceritakan kepada orang lain. Menurut penulis anggapan anda itu salah! Kenapa? Coba anda perhatikan cerita-cerita yang dibuat lewat film, novel, cerpen dan sebagainya adalah cerita tentang seseorang atau menceritakan kisah seorang tokoh saja. Pertanyaannya kenapa tokoh itu hanya orang lain mengapa anda tidak berusaha memunculkan tokoh anda sendiri dari hasil imaginsi anda kedalam sebuah cerita dan itu sangat menakjubkan? Jawabanya mungkin karena anda menganggap imaginasi bukan hal yang menguntungkan buat anda bahkan anda mempnyai persepsi menghayal itu adalah aktivitas yang sia-sia. Padahal angapan itu salah!! JK Rowling bisa menjdi milioner hanya karena dia bercerita bohong kepada orang-orang, Shakespeare menjadi orang ternama di jajaran sastrawan hanya karena dia mendongeng untuk orang-orang? dan masih banyak lagi orang-orang yang sama halnya seperti Shakespeare dab kawam-kawan. Pernahkah anda menghayalkan kehidupan anda dari semenjak kecil hingga dewasa dan tua dengan segala perjuangannya, pasti itu hal yang seru! Pernahkah anda menceritakan hayalan anda itu kepada kawan atau saudara anda? Kayaknya tidak, karena anda takut ditertawakan oleh mereka.

Jika anda mau potensi yang telah Tuhan berikan kepada anda yaitu imaginasi memberikan sebuah keuntungan besar hingga merubah hidup anda menjadi orang sukses. Maka persepsi anda tentang dunia hayalan dan imaginasi itu harus dirubah. Mengapa? Karena dunia imaginasi adalah harta karun yang besar yang dimilki oleh setiap orang untuk merubah dirinya menjadi orang yang besar. Mari kita lihat lebih dalam, setiap orang ketika akan menghayal pasti menentukan tema, satu poin telah anda dapatkan yaitu tema. Lalu dalam perjalanan menghayal anda akan menaburkan rintangan dan kemudahan dalam hayalan tersebut. Itu adalah konflik, konflik itu penting dalam sebuah cerita dimana konflik menjadi bumbu sedap untuk menikmati sebuah hayalan. Selanjutnya adalah taburkan rasa takut dalam cerita anda misalkan takut hantu, pejabat, tentara, ketinggian, binatang buas dan lain sebagainya; ketakutan ini akan memberi rasa taste yang tinggi. Setelah itu anda behak menentukan hayalan anda berakhir dengan macam dan ragam jenis seperti, happy ending (akhir bahagia), sad ending (akhir yang tragis), atau confious (menggantung). Sejalan dengan apa yang disampaikan Plato adalah awal tengah dan akhir. Begitulah kira-kira poin penting yang terdapat dalam alur plot sebuah cerita dramatik. Lalu mengapa sekarang sedikit sekali orang yang dapat berhasil membut cerita kehidupan atau lainya kedalam karya tulis padahal secara teori di atas membuat karya imaginer sangatlah mudah? Mungkin jawabannya adalah tidak tahu, malas atau tidak percaya diri. Bahkan anda neranggapan anda tidak pantas menjadi seorang pendongeng atau penulis nskah cerita dikarenakan anda seorang fisikawan, tehnisi, dan ragam profesi lainnya yang menyebabakan anda tidak percarya pada diri, bahwa anda pun sanggup halnya seperti sastrawan lainnya.

Langakh-langakah menulis cerita imaginasi anda adalah kertas kecil dan ball poin yang akan membantu dalam misi ini, aktivitas mengahyal itu berpareatif ada yag setengah jam, satu jam dua jam bahakan sampai seharian. Kesempatan untuk anda adalah menuliskan apa yang ada hayalkan kedalam tulisan dengan bantuan kertas kecil dan ball pion itu. Tidak usah cemas dengan bahasa yang anda gunakan dalam cerita tersebut. Gunakanlah bahasa sehari-hari tidak usah pusing mikirin grammatikal dahulu, karena ini akan menghambat proses imaginasi anda. Ceritakan dan tulis! Hayalkan dan tulis! Tidak usah menunggu waktu yang tepat untuk menuliskan apa yang telah terbayang karena kelamaan menunggu waktu yang tepat maka keburu hilang dan tergantikan dengan hayalan lainnya. Tulis, dan cepatlah tulis sekarag! Jika anda telah menulis simpanlah dalam kumpulan tulisan kecil anda lalu setelah tulisan kecil itu terkumpul maka proses selanjutnya adalah mengumpulkannya kedalam sebuah cerita karangan yang akhiri dengan ediing. Dalam tahap editing ini adalah bagaimana anda dapat mendramatisir keadaan yang ada dalam cerita anda dengan memperbuas, lus,sempit, khusus, dramatisir dalam penggunaan gaya bahasa. Tugas pertama anda telah selesai, kini tinggal tahap uji coba, tawarkan cerita anda kepada saudara atau teman. Apakah setelah membaca cerita anda mereka senang, biasa saja, atau tidak suka. Setelah itu editing kedua adalah menyelaraskan sesuai pendapat pembaca entang karya karangan anda.

Tidak sulit bukan? Dalam melakukan hal apapun itu tidak akan sulit jika dari awal kita berproses tidak menuntut kesempurnaan pada hasil tapi yang wajib kita jungjung adalah kesempurnaan dalam berproses. Seberapa besar semangat anda, ketangguhan keyakinan, dan konsistensi anda untuk melakukan semua hal. Lalu setelah itu buatlah karya anda menjadi bacaan dan tontonan semua orang. Pasti akan merasa banhasgia dari apa yang telah anda lakukan (dari hal yang sia-sia menjadi hal yang luar biasa)

KAIL CINTA

June 10, 2008 - Leave a Response

Karya: Dedi Suhendar

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Hujan gerimis membasahi bumi

Ranting-ranting basah dengan lumut hijaunya

Waktu itu aku berdiri dibawah ranting basah itu

Setelah melawan derasnya suara hati yang membanjiri hatiku

Senyum kutorehkan dalam bibirku yang hitam

Hari ini adalah kail pertama yang ku lemparkan ke muara hatinya

Gundah dan gelisah apa gerangan setelah kailnya ku lepas,

Mungkinkan ia mengerti apa yang telah ku isyaratkan?

Malam-malamku menjadi dunia baru bersamanya

Walau hanya dalam angan dan sepi

Inikah jalan yang harus ku tempuh untuk memilikinya?

Bahagia setelah kailnya disambut.

Ada burung bernyayi diatas ranting basah itu

Tanyaku padanya, apakah rasa ini akan selamanya aku rasakan?

Burung itu berhenti bernyanyi

Kataku padanya, memang kail itu hanya kuberi umpan cinta

Aku tidak menyertakan harta dan tahta di kail itu

SELALU BBM YANG BIKIN GEMPAR NEGARA INI

June 10, 2008 - Leave a Response

Oleh: Dedi Suhendar

Negeriku kini diguncang lagi dengan bencana ekonomi, seiring bencana yang melanda negeri bambu pagi lalu belasan ribu meniggal dunia terkubur dalam reruntuhan gempa. Tua muda turun kejalan dengan sepanduk bukan kotak sumbangan bencana. Adalah kotak suara dukungan untuk melawan keadaan yang terpuruk, itulah yang disuarakan mereka. “Boro-boro mikirin negri tetangga saat ini emak saya tidak bisa membeli minyak!” Panas dingin kondisi ekonomi negri kita ini semakin memuncak dan sebentar lagi akan kejang-kejang. Minyak saat ini seakan-akan menggantikan beras, karena minyak sudahlah menjadi barang pokok yang sangat penting adanya. Jika mereka coba ingat kembali ke masa lalu saat mereka mencari kayu bakar ke hutan untuk memasak kebutuhan pangan sehari-hari, bepergian menggukan andong atau becak seakan itu sirna ditelan jaman yang semakin berlari cepat. Kataku dan mereka itu tak mungkin kembali kejaman dimana kita tidak tergantung pada juragan minyak” ini. Ya, memang begitu adanya mereka adalah pecandu minyak yang berteriak “berikan minyak… berikan minyak…. Dengan harga murah”, bukan berkata “minta air… air… aku kehausan!”. Bukan, saya rasa bukan itu yang dikatakan mereka dan aku, nyatanya roda dunia ini bahan bakarnya adalah minyak fosil. Semua mulut berbicara minyak hari ini, semua orang dinegeri ini berkata “janagan tambah lagi derita pada kami dengan menaikan minyak”. Listrik dihasilkan dari bahan bakar fosil, barang kebutuhan di muat oleh bahan bakar fosil, memasak dan memanggang menggunakan bahan bakar fosil, dan berkendaraan sama pula menggunakan bahan bakar fosil semuanya seakan menjadi sebuah mata rantai setan, saling ketergantungan pada bahan bakar fosil. Manusia pada era ini adalah manusia yang hidup di “Revolusi Bahan Bakar Fosil” itu faktanya!

Konon katanya cerita dari ayahku negeri ini adalah negeri nomer ke dua sebagai penghasil minyak terbesar di dunia. Harta melimpah ruah harga-harga semuanya murah. Makan di warteg saja cukup mengeluarkan uang sebesar 250,- rupiah kita sudah bisa kenyang melahap makanan dengan menu yang istimewa. “Malang nasibmu nak” kata ayahku “sekarang ini, mau makan saja ngak cukup dengan uang sepuluh ribu rupiah”. Ya memang malang nasibku dan anak cucuku dimasa nanti. Negeriku sekarang seperti “jungky” pecandu yang sedang sakau, kacau balau karena kondisinya sedang “nagih lagi”. Laksana kanker yang menempel dalam tubuh perlahan mengerogoti dan lama-lama membunuh hingga mati, ini semua oleh karena si minyak fosil itu. Apa yang dapat aku lakukan untuk negeriku saat ini, “menghemat, dengan menggunakan kartu izin membeli minyak” kata Presiden padaku. “bangsat!!, makan saja kok dibatasi emangnya kamu pernah ngasih makan untuk saya?” kataku dengan geram. “emangnya kamu pernah memberi uang untuk membayar biaya sekolah dan berobat kerumah sakit?”. Sekolah mahal, biaya rumah sakit mahal, belanja kebutuhan sehari-hari mahal, menikah pun mahal sama seperti harga minyak “naik melulu”. Apakah aku harus ikut dengan tetangga rumahku yang pergi ke luar negeri untuk mengemis Dolar, Ringgit, Real dan Yen. Tidak kata ayahku “negeri kita itu sangat kaya nak!”. Ya benar sekali negeri kita ini adalah negeri “kaya” kaya pengemis, kaya pengangguran, kaya penyakitan, kaya tawuran, kaya korupsi, kaya sendiri ngak mau bagi-bagi, dan pengen meniru kaya orang lain tapi ngak kesampaian.

Setahuku minyak fosil itu ditambang dari tanah ibu pertiwi lalu dijual kepada orang pertiwi, “dari pertiwi untuk pertiwi” setahu Presiden “minyak itu ditambang oleh PERTAMINA lalu dijual kepada orang pertiwi dan orang asing”. sejatinya adalah minyak itu milik orang pertiwi bukan milik PERTAMINA saya yakin itu! Lho kok? sekarang katanya mau menjual minyak kepada orang pertiwi sama harganya dengan menjual kepada orang luar pertiwi. “sinting” itu sama saja Ngelunjak kita biarkan PERTAMINA mengolah minyak pertiwi, lho kok? sekarang minyak itu jadi milik PERTAMINA tuan tanahnya kan Pertiwi bukan PERTAMINA? Kenapa bisa begitu? Kalau saya boleh usul sudahlah tambang minyak itu jangan diberikan kepada orang PERTAMINA, nanti dia bakal nakalin orang pertiwi supaya puasa dan dipaksa menghisap gas Elpiji dan gas ekspor dari Amerika. Oke, saya sekarang coba mengerti, memang PERTAMINA sudah menjadi raksasa yang susah untuk digulingkan. Oke lah, harga minyak disamakan dengan harga penjualan diluar orang pertiwi. Tapi saya minta tiga hal kepada Bapak Presiden. Pertama Pendidikan sekolah selama sembilan tahun baik itu sekolah negeri atau pun swasta semuanya geratis. Kedua biaya pengobatan rumah sakit dari kalangan menengah kebawah itu geratis. Ketiga berikan sarana pekerjaan untuk kami biar tidak menjadi pengangguran dan sampah masyarakat. Itu saja negoisasi kami untuk Bapak presiden menaggapi “Revolusi Bahan Bakar Fosil” saat ini. Terima kasih

SEJATINYA MANUSIA

June 10, 2008 - Leave a Response

Oleh: Dedi Suhendar

Hidup itu mengalir begitulah adanya, semua berputar, bergerak dan diam. Manusia terperangkap dalam lingkaran yang memutar dan berulang ulang. Setiap manusia semuanya berjalan mencari apa yang diimpikannya atau mungkin yang dinginkanya. Hasrat untuk hidup sangatlah kuat, karena mati adalah bukan akhir yang menyenangkan. Sulit untuk manusia menatap apa yang akan ia tempuh selanjutnya, esok, sejam nanti menit nanti, sampai bulan dan tahun depan. Seakan semuany akan indah, mungkin alasan itulah yang menjadikan manusia untuk tetap hidup di muka bumi ini. Walau pun tak seorangpun dapat mengetahui alur jalan hidup masing-masing di esok hari.

Lubang-lubang kehidupan begitu banyak sehingga manusia berhati-hati agar tidak terjerembab kedalam lubang dalam; lubang yang gelap penuh ketidak pastian dan kosong. Semua orang pasti mempunyai cita-cita tertinggi; sukses berkarir, jabatan, milioner, seniman, budayawan dan dermawan. Tapi jalan yang manusia tempuh tidaklah sama seperti alur yang ia temukan dari sejarah. Perasaan putus asa kian mendera dalam jiwa manusia tatkala mereka menemukan kenyataan pahit dari hasil perjuangannya. Atau selalu lupa tatkala bahagia merona dalam jiwa dan menebarkan tawa senyum gembira.

Keadaan ini memaksa manusia untuk merasakan peristiwa malam dan siang memilih antara baik dan benar, walau kadang semua terkecoh dengan manisnya ambisi dan mimpi. Tertipu dan tertipu lagi oleh sebuah keyakinan, “aku akan memiliki” dan “aku abadi” bohong! Kata-kata itu mustahil adanya karena manusia adalah tidak ada dan keabadian pun adalah tidak ada. Manusia terlahir dengan tak punya apa-apa dan manusia adalah miskin tak sejengkal tanah pun, tak setunjang beras pun, tak setetes air pun dimilki oleh manusia, karena manusia tak pernah bisa membuat itu semua. Dialah pemilik segalanya dan penguasa jagat raya yang telah menuliskan nama manusia dalam lembaran sejarah dunia.

Manusia yakin semua pasti ada akhirnya, setinggi melompat keatas pasti akan terjatuh, sekuat monster berdiri pasti akan roboh, ribuan mil ditempuh pasti akan mendapatkan jalan yang buntu. Karena manusia adalah mahluk yang dibatasi. Manusia kadang lupa dengan dirinya, andaikan semua manusia menyadari bahwa hari-hari yang dijalaninya mungkin bisa menjadi hari terakhirnya, dan setiap nafas yang dihela mungkin adalah nafas terakhir bagi manusia saat ini. Hidup tidaklah mudah diterka oleh siapa? Dengan siapa dan bagaimna? Semuanya butuh proses. Inilah sebuah inti yang lama kita cari sebuah jati diri yaitu “proses” manusia tak berhak menentukan hasil akhir atau bentuk penilaian. Karena manusia tidak lah dipandang hidup jika tidak berproses. Mulailah hidup ini dengan berproses yang jelas dan menuntun kita menjadi manusia yang dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah diamanatkan.

KUMPULAN PUISI DALAM RAGAM SIMBOL

June 10, 2008 - Leave a Response

Mancing Disungai Rimba

19 April 2006

Oleh: Dedi Suhendar

Melihat, memakna dan menggumul

Rambut rol warna putih

Baju keras paling rapih

Ada air mengalir dari hulu bersambung ke dermaga

Aku bingung antara santap atau hayal

Tak ada yang memberi angin di setiap mimpi

Buruk, baik, wangi, dan bau

Ku cium di sudut kalbu

Ayah, ibu aku pulang lagi

Tangan terbuka lalu pergi

Pendaringan kering tertiup angin

Kepala memandang pada indung

Laku lampah gontai sayap-sayap patah

Mata juling mencibir jari

Salah tangkap ikan kebiri

Jaring … jaring … layarmu rebahkan

Ya … aku tangkap ikan kecil lagi

Kapan ayah dan ibu menyantap ikan tangkapanku

Dapat …! Seperti angin badai didasar tanah

Tak kusangka belut kecil licin pandai

Memukau mata teteskan air kecewa

Hu … lelah menjaring di sungan ini

Tapi sungai mana lagi?

Kebunku

Oleh: Dedi Suhendar

Dikebunku ada musim semi setiap hari

Anak kecil sembunyi dibalik pohon

Kakiku berjalan mirip strikaan kadang kabur kadang kering kerontang

Yah … ! hanya aku saja dari kemarin

Tak adakah yang melihat saat aku lewat?

Suntuk di kebunku redup angin dingin

Gubuku besar dan bersih

Kenapa aku tidur di pohon mangga?

Terlalu jauh musim ini berlalu

Moga-moga musim panas pindah

Dari Hawai ke kebunku

Agar aku dapat main layang-layang dengan anak itu.

Maksudnya Apa?

Oleh: Dedi Suhendar

Kemarin dan hari ini aku sedang sinting

Pusing tidak tahu kenapa sampai tujuh keliling

Mikirin ini, itu ngak penting

Serasa hidup laksana asing

Ada tumpukan sepanduk lusuh tertumpuk di mushola, hangat, aman nyaman

Air jadi musuh lima hari ini kehilangan kompas saat berlari

Lari … lari … mana kompasku?

Seribu bibir memeluk telinga

Bising dan hingar bingaar bagai pesawat lewati orang dungu

Ada apakah denganmu?

Santai saja lah!

Tari kecak iringi tali temali

Wajah bingung taburkan sontak

Angin … angin kemana saja engkau?

Aku lama sekali mencarimu dalam gelas

Oh iya rambut rontok musuhku

Kutu liar panen padi

Tega … sungguh tega dirimu itu

Lalai, … acuh, … sudah bosan ya?